Ada Pertanyaan ?
+62 857-4550-9992

Fenomena Workplace Bullying dalam Perspektif Psikologi

chaakra By  October 13, 2025 2 295

Apa itu Workplace Bullying?

Perundungan bisa terjadi di mana saja, salah satunya yang kian marak terjadi adalah adanya workplace bullying. Fenomena ini dapat berbentuk sindiran halus, pengucilan sosial, “gaslighting”, atau delegasi tugas yang sengaja merugikan perlahan berakar sebagai bagian dari budaya kerja di beberapa industri.

Hal ini juga kerap tidak disadari karena tidak selalu hadir dalam bentuk teriakan atau ancaman. Banyak pelaku justru menyamarkannya dalam bentuk motivasi atau candaan yang membuat korban kebingungan untuk menilai apakah mereka benar-benar sedang dalam gurauan yang lucu atau sedang diperlakukan tidak adil oleh sekitarnya.

Di sisi lain, korban sebagian besar memilih diam karena takut diremehkan dengan gunjingan “lemah atau tidak mampu beradaptasi” dengan kerasnya dunia kerja. Para ahli psikologi menegaskan bahwa sikap diam ini justru memperkuat siklus bullying, dikarenakan pelaku merasa tindakannya tidak salah bahkan mendapat dukungan dari budaya organisasi itu sendiri.

Kemudian dalam jangka panjang, normalisasi perilaku bullying berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan dan berpotensi menurunkan kreativitas serta inovasi dalam mengerjakan pekerjaannya.

Akibatnya, perusahaan mungkin saja merugi tanpa menyadari akar masalahnya ada pada praktik tindakan bullying yang selama ini dibiarkan.

Workplace bullying bisa menyebabkan seseorang tidak semangat dalam bekerja

Seberapa Luas Tindakan Workplace Bullying Menggerogoti Dunia Kerja?

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Gunawan, Prihanto, dan Yuwanto dari Universitas Gadjah Mada memberikan gambaran nyata mengenai fenomena workplace bullying di dunia kerja Indonesia. Penelitian ini melibatkan 123 pekerja di Surabaya sebagai responden.

Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 49 persen responden pernah menyaksikan/mengalami langsung tindakan bullying di tempat kerja mereka. Angka ini tergolong cukup tinggi dan memperlihatkan bahwa praktik tersebut bukan sekadar cerita individu, melainkan fenomena yang cukup meluas.

Selain itu, penelitian ini juga menelusuri dampak psikologis pada korban. Banyak korban melaporkan perasaan marah, terluka, frustrasi, hingga kehilangan kepercayaan diri setelah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari rekan atau atasan.

Sebagian bahkan mengaku muncul dorongan kuat untuk mengundurkan diri dari pekerjaan karena tidak lagi merasa nyaman di lingkungan tersebut (Silviandari & Helmi, 2018).

Angka-angka ini menegaskan dua hal :

  1. Bullying di tempat kerja nyata dan sering tersembunyi.
  2. Pengakuan korban sering terhalang norma budaya organisasi yang menormalisasi perilaku itu.

Bullying Terselubung yang Disamarkan Sebagai “Budaya”

Data Survei yang dilakukan Populix, 73% responden yang terdiri dari para pekerja formal mengaku pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan di dunia kerja dengan bentuk perlakuan yang beragam (Reviani & sisiplus.katadata.co.id, t.t.). Fakta tersebut menunjukkan bahwa budaya bullying masih mengakar kuat di lingkungan kerja.

Di samping itu, Seringkali kita temui bahwa tindakan bullying ini hadir dalam bentuk seolah “disamarkan” dengan cara karyawan yang sengaja tidak diajak rapat, informasinya ditahan, atau terus-menerus dikritik dengan alasan menjaga profesionalitas. Bahkan, “gaslighting” kerap dilakukan sehingga korban bullying dibuat meragukan kemampuan dan penilaiannya sendiri.

Perlakuan semacam ini membuat banyak pekerja mengalami tekanan mental, meski sering kali sulit dibuktikan, tidak jarang ketika ada karyawan baru dipermalukan di depan umum atau ditekan habis-habisan sebagai bagian dari “proses belajar”.

Sehingga, pola ini sama sekali tidak membentuk mental yang sehat, melainkan menormalisasi kekerasan psikologis di lingkungan kerja.

Dua Sudut Pandang dalam Fenomena Perundungan dalam Bekerja

Fenomena bullying di tempat kerja kerap menampakkan dua sisi yang berbeda. Dari sudut pandang pelaku, tindakan bullying/merundung justru dianggap sebagai sesuatu yang “konstruktif”.

Banyak yang menganggap bahwa dengan adanya tekanan atau perlakuan keras akan mempercepat proses adaptasi karyawan baru, menegakkan disiplin, atau bahkan menjadi cara untuk menguji mental.

Tak jarang juga pelaku merasa berhak melakukan dominasi karena posisi lebih senior atau karena menilai kinerja bawahan buruk. Dengan dalih produktivitas dan loyalitas, mereka menyamarkan perilaku merendahkan sebagai bentuk “pendidikan”.

Namun, dari sisi korban pengalaman tersebut terasa jauh berbeda. Bukannya merasa terlatih, melainkan justru korban sering diliputi kebingungan, malu, dan tidak berdaya. Tekanan berulang kali dialami membuat kepercayaan diri merosot tajam.

Tidak sedikit yang akhirnya memilih diam karena khawatir mendapatkan pembalasan, kehilangan pekerjaan atau ketidakpercayaan oleh pihak manajemen.

Kesulitan ini semakin bertambah ketika bullying dilakukan secara terselubung, misalnya dengan menahan informasi penting atau melakukan kritik yang merendahkan memperburuk kondisi psikologis korban.

Strategi Memutus Rantai Perundungan Ditempat Kerja

Menghentikan tindakan bullying di tempat kerja tidak bisa dilakukan sekadar imbauan/obrolan semata. Langkah yang bisa dilakukan dengan menerapkan jika tindak bullying ini memang terjadi & ada.

Melakukan survey internal dan evaluasi budaya kerja penting dilakukan supaya perusahaan mengetahui seberapa besar persoalan yang dihadapi.

Dengan hal ini, menimbulkan kebijakan yang tegas & aturan anti-bullying yang jelas, termasuk untuk perilaku terselubung seperti pengucilan atau kritik merendahkan.

Selain itu, peran pemimpin menjadi kunci. Manajer dan atasan perlu mendapatkan pelatihan kepemimpinan agar dapat mengelola tim secara supportif bukan intimidatif. Di sisi lain, korban juga dipastikan mendapat akses pada jalur pelaporan yang aman, konseling psikologis, bahkan bantuan hukum bila diperlukan. Tanpa dukungan seperti ini, korban akan terus memilih diam dan membiarkan budaya buruk berlanjut.

Di sisi lain, pelaku juga harus mendapatkan tindak lanjut terkait perilaku bullying yang diterapkan. Melalui Coaching, evaluasi kinerja, hingga sanksi tegas dapat diberikan supaya mendapatkan efek jera.

Oleh karena itu, rekan kerja yang menjadi saksi tindak bullying juga sebaiknya diberdayakan, dengan cara diadakan pelatihan untuk berani melakukan intervensi aman. Dengan begitu, perusahaan bukan hanya memberi perlindungn pada korban, tetapi juga membangun budaya kerja yang sehat, produktif, dan manusiawi.

Laila – Asisten Konsultan Psikologi dan SDM


Comments (2)

  • mitolyn February 1, 2026

    **mitolyn**

    Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.

  • pgs5000login September 30, 2026

    The gameplay is addictive and the payouts are actually fair. I’m really impressed with the stability here. Just visit pgs5000login and start winning.

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *