Ada Pertanyaan ?
+62 857-4550-9992

  • Home
  • Article
  • Ekonomi
  • Mendorong Kemandirian Ekonomi Perempuan: Strategi Pembangunan Berkelanjutan

Mendorong Kemandirian Ekonomi Perempuan: Strategi Pembangunan Berkelanjutan

chaakra By  April 21, 2025 17 395

Halo Sahabat Chaakra! Ketimpangan dalam partisipasi angkatan kerja, minimnya akses pelatihan, keterbatasan jaringan usaha, hingga norma budaya yang membatasi ruang gerak perempuan, masih menjadi tantangan nyata yang belum sepenuhnya teratasi. Peringatan Hari Kartini ini merupakan momen penting tidak hanya untuk memperingati perjuangan perempuan, namun juga untuk menantang sistem yang masih mengekang kebebasan untuk turut andil dan berkarya. Momen ini menjadi reflektif untuk meninjau kembali posisi dan peran perempuan dalam masyarakat agar strategi pembangunan berkelanjutan bisa diterapkan. Mari kita telusuri lebih jauh mengapa mendukung kemandirian ekonomi perempuan itu penting.

Kesulitan dalam Wujudkan Strategi Pembangunan Berkelanjutan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang rilis diawal tahun 2025, meskipun secara demografis jumlah perempuan hampir setara dengan laki-laki, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (TPAK) masih stagnan di angka 51%, jauh tertinggal dari TPAK laki-laki yang mencapai 82%. Bahkan, proporsi perempuan dalam pasar tenaga kerja secara keseluruhan hanya sekitar 33,52%.

Rendahnya partisipasi ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi, melainkan juga oleh kuatnya nilai-nilai sosial dan budaya yang membentuk peran gender. Norma-norma masyarakat masih memandang bahwa perempuan secara kodrat adalah “ratu dan pengurus rumah tangga”, sehingga aktivitas di luar ranah domestik sering dianggap menyimpang dari peran alaminya (Tjandraningsih, 1996). Pandangan ini berkontribusi pada ketimpangan sistematis dalam akses terhadap lapangan pekerjaan, pelatihan, kepemimpinan, dan kesempatan berwirausaha bagi perempuan.

Namun demikian, dalam realitas sosial dan ekonomi yang terus berkembang, semakin banyak perempuan yang merasa perlu terlibat dalam aktivitas ekonomi dan memasuki dunia kerja. Tuntutan ekonomi keluarga, meningkatnya biaya hidup, serta dorongan untuk mandiri secara finansial menjadi pendorong utama. Tak sedikit pula perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga tunggal, memikul seluruh beban ekonomi tanpa dukungan pasangan.

Di tengah peran ganda sebagai pengurus rumah tangga dan pencari nafkah, banyak perempuan akhirnya memilih jenis pekerjaan yang menawarkan fleksibilitas waktu agar dapat menyesuaikan diri dengan tanggung jawab domestik mereka.

Dalam konteks ini, survei yang dilakukan oleh MicroSave Consulting dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa alasan utama perempuan bekerja di sektor informal adalah kebutuhan akan fleksibilitas waktu. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka mengatur jadwal kerja sesuai kondisi rumah tangga, sembari tetap mendapatkan penghasilan tambahan.

Di samping itu, faktor keterbatasan akses ke lapangan kerja formal, rendahnya pendidikan dan keterampilan, serta minimnya jaringan profesional juga menjadi alasan kuat di balik pilihan tersebut. Dengan demikian, sektor informal sering kali menjadi pilihan yang paling realistis dan mudah dijangkau, terutama bagi perempuan yang menghadapi hambatan struktural dan kultural dalam memperoleh pekerjaan yang layak di sektor formal.

Kemandirian Ekonomi Perempuan

Di tengah ketimpangan ini, penting untuk menyoroti apa itu sebenarnya kemandirian ekonomi perempuan dan bagaimana peranannya dalam mengatasi ketimpangan tersebut. Kemandirian ekonomi perempuan merupakan salah satu aspek penting dalam upaya pemberdayaan perempuan yang secara langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga dan pengurangan kesenjangan gender dalam berbagai sektor ekonomi. Terlebih lagi, kemandirian ekonomi pada perembuan bisa menjadi langkah untuk memulai strategi pembangunan berkelanjutan.

Secara konseptual, kemandirian ekonomi perempuan mengacu pada kemampuan perempuan untuk memperoleh, mengelola, dan mengembangkan sumber daya ekonomi secara mandiri, yang pada gilirannya memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas dan kualitas hidup keluarga (misalnya, Islamiyah & Muhtadi (2022), Rahim (2024)). United Nations (2020) menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan adalah salah satu strategi utama dalam upaya memerangi kemiskinan dan mewujudkan masyarakat yang inklusif serta tangguh.

Dalam konteks ini, perempuan dari keluarga miskin, komunitas minoritas, dan kelompok marjinal perlu ditempatkan sebagai prioritas dalam agenda pembangunan ekonomi nasional. Selain meningkatkan pendapatan rumah tangga, kemandirian ekonomi perempuan memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap pembangunan sosial.

Perempuan yang berdaya cenderung menginvestasikan lebih banyak pendapatan untuk pendidikan dan kesehatan anak-anak, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas generasi berikutnya. Dalam jangka panjang, ini memperkuat ketahanan keluarga dan mengurangi ketergantungan pada bantuan sosial negara.

Salah satu pendekatan yang efektif dalam mendorong kemandirian ekonomi perempuan melalui penguatan kapasitas kewirausahaan. Hendratmi dkk. (2022) menyatakan bahwa pelatihan kewirausahaan yang terarah dapat memberdayakan perempuan miskin, meningkatkan pendapatan rumah tangga, sekaligus memperkuat posisi tawar mereka dalam pengambilan keputusan ekonomi di tingkat keluarga maupun komunitas.

Program Bunda Puspa Mendorong Kemandirian Ekonomi Perempuan

Namun pemberdayaan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari persoalan struktural yang lebih besar, seperti kesenjangan akses terhadap teknologi, legalitas usaha, dan permodalan. Oleh karena itu, pendekatan partisipatif yang menggabungkan pelatihan, pendampingan, dan dukungan kebijakan menjadi kunci keberhasilan. Implementasi nyata dari pendekatan ini kami lakukan melalui program Bunda Puspa (Bunda Produktif dan Sejahtera).

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kami dan Pemerintah Kabupaten Gresik. Sasaran utamanya adalah perempuan kepala keluarga dan pelaku usaha mikro perempuan marginal (korban KDRT, berada dibawah garis kemiskinan, disabilitas) di wilayah pedesaan yang sebelumnya belum tersentuh sama sekali dengan program peningkatan ekonomi yang ada.

Melalui pendekatan partisipatif, peserta program dilatih untuk mengenali potensi lokal, meningkatkan literasi finansial, serta mengembangkan model bisnis sederhana yang dapat mereka kelola secara mandiri. Hasil dari program ini menunjukkan dampak positif yang signifikan dimana peserta berhasil meningkatkan omzet penjualan dengan rata-rata pendapatan peserta naik 17%, dengan peningkatan tertinggi 233% dan terendah 5%.

Keberhasilan program Bunda Puspa membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat berupa pelatihan dan pendampingan berkelanjutan, perempuan mampu menjadi aktor utama dalam transformasi ekonomi, baik di tingkat keluarga maupun komunitas. Mereka tidak hanya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dalam bentuk angka statistik, tetapi juga membangun fondasi sosial yang lebih adil, kuat, dan berkelanjutan serta ikut menyukseskan strategi pembangunan berkelanjutan.

Saatnya Memberi Ruang Untuk Kemandirian Ekonomi Perempuan

Pemberdayaan perempuan bukan beban, melainkan investasi strategis yang mendorong pembangunan berkelanjutan. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa jika Perempuan bisa mandiri secara ekonomi, maka memiliki potensi untuk meningkatkan PDB Indonesia sekitar 26% (CNN Indonesia). Jika saja terjadi peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan sebesar 25% diperkirakan mampu menambah aktivitas ekonomi senilai Rp890 triliun serta mendorong pertumbuhan PDB sebesar 2,9% (worldbank.org).

Kemandirian ekonomi Perempuan bukan sekadar isu moral, melainkan investasi strategis bagi kemajuan bangsa. Perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi, Saatnya memberikan akses, kesempatan, dan kepercayaan agar perempuan dapat tumbuh, memimpin, dan menjadi pilar ekonomi bangsa.

Lebih dari sekadar angka, perempuan yang berdaya secara ekonomi terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga, menurunkan angka kemiskinan, dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan harus terus didorong sebagai bagian integral dari strategi pembangunan nasional yang adil, inklusif, dan berkelanjutan agar strategi pembangunan berkelanjutan bisa berjalan dengan efektif.

Comments (17)

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *