Wings Group: Transformasi Bisnis Keluarga Yang Mampu Bertahan Hingga Generasi Ketiga

Yuk Kita Intip Strategi Transformasi Bisnis Keluarga Wings Group Yang Mampu Bertahan Hingga Generasi Ketiga
Wings Group adalah salah stau perusahaan yang berhasil melakukan transformasi bisnis keluarga yang terkemuka di Indonesia, dijalankan oleh Keluarga Katuari dan Sutanto. Selama hampir 8 dekade berkiprah, Wings Group tampak nyaman menempati posisi keempat dalam hierarki pasar Berdasarkan data oleh United States Department of Agriculture (USDA) dalam laporan Indonesia: Food Processing Ingredients Annual yang dirilis pada April 2026,

Wings Group menempati posisi keempat dengan nilai penjualan ritel sebesar 1,871 Juta Dolar AS. Saat ini Wings Group telah memasuki generasi ketiga. Di saat banyak transformasi bisnis keluarga hancur pada generasi ketiga, Wings Group mampu mempertahankannya. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam: faktor apa yang membuat posisi mereka begitu kokoh?
Pendiri dan Awal Mula Bagaimana Bisa Melalukan Tranformasi Bisnis Keluarga
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1948 di Jawa Timur oleh Harjo Sutanto dan Johannes Ferdinand Katuari (Oen Jong Khing) dengan nama Fa. Thong Fat. Awalnya Thong Fat hanya meluncurkan sabun batangan yang di beri nama Sabun Sayap.
Dengan hanya dibantu oleh enam orang karyawan, strategi pemasaran mereka tergolong sangat militan pada zamannya. Distribusi dilakukan menggunakan sepeda dengan sistem door-to-door, konsinyasi di toko-toko kelontong, hingga melibatkan para pedagang keliling yang menjajakan sabun di dalam keranjang di atas kepala mereka.

Menyusul wafatnya Bapak Johannes F. Katuari, tongkat estafet kepemimpinan perusahaan resmi beralih kepada Eddy Katuari pada tahun 2004. Grup Wings saat ini berada di bawah kepemimpinan generasi kedua.
Dalam mengelola operasional dan ekspansi bisnis, Eddy Katuari didukung oleh jajaran eksekutif yang berasal dari representasi kedua keluarga pendiri, yaitu pihak Keluarga Katuari dan pihak keluarga Harjo Sutanto. Sinergi antara generasi kedua dari keluarga Katuari dan keluarga Sutanto ini menjadi pilar utama dalam menjaga kesinambungan bisnis dan nilai-nilai luhur perusahaan yang telah dibangun sejak awal berdiri.
Transisi ini menandai era baru manajemen perusahaan yang dijalankan melalui kolaborasi erat antara keluarga pendiri dan perusahaan induk investasi PT Lumbung Artakencana. Perusahaan ini bertindak sebagai kendaraan investasi utama bagi keluarga pendiri Wings Group, dengan jejak portofolio bisnis yang mencakup sektor perbankan dan investasi publik.
PT Lumbung Artakencana dikenal sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) PT Bank Multiarta Sentosa Tbk. (Bank MAS). Termasuk kepemilikan saham melalui perusahaan afiliasinya, PT Danabina Sentana. Selain itu, Perusahaan ini secara aktif memegang portofolio saham di berbagai emiten publik
Nilai Konfusianisme dan Prinsip Perusahaan Agar Bisa Melakukan Transformasi Bisnis Keluarga Wings Group
Kesuksesan dan keharmonisan Grup Wings berakar pada nilai filosofi kebersamaan dan kepercayaan yang beririsan dengan nilai Konfusianisme Fu Lu Shou (kekayaan, kebijaksanaan, dan kesinambungan) serta prinsip thuan jie shi lik liang (bersatu kita teguh bercerai kita runtuh).
Meskipun generasi penerusnya seperti William dan Freddy berlatar belakang pendidikan modern dan tidak secara sadar menerapkan falsafah tradisional tersebut, mereka tetap memegang teguh wejangan para pendiri. Prinsip inilah yang sukses menjaga persatuan dua keluarga pendiri, yakni keluarga Katuari dan Sutanto, sehingga perusahaan terhindar dari konflik internal maupun perebutan kekayaan.
Nilai kekeluargaan tersebut tidak hanya berlaku di level pimpinan, tetapi juga diaplikasikan secara nyata untuk menyatukan manajemen dan sekitar 12 ribu karyawannya bak satu keluarga besar.
Berlandaskan prinsip sense of ownership dan sense of belonging, terbangun rasa empati yang tinggi di dalam tubuh organisasi, di mana kesusahan maupun kebahagiaan saling dirasakan bersama. Kepedulian ini dibuktikan dengan komitmen manajemen yang selalu memperhatikan kesejahteraan pekerja, bahkan tidak segan memberikan bantuan finansial secara pribadi kepada karyawan yang sedang tertimpa musibah di luar kapasitas santunan resmi perusahaan
Melalui pendekatan manajemen tradisional yang mengedepankan kepercayaan dan kerja sama tim yang kuat, Wings mampu mempertahankan nilai-nilai intinya di tengah persaingan global. Sebuah prinsip yang menetapkan bahwa jajaran direksi (board of directors) dijadikan sebagai satu kesatuan badan dimana setiap individu memiliki keahliannya masing-masing.
Oleh karena itu, seluruh gagasan dikumpulkan menjadi satu, didiskusikan secara bersama, dan kemudian diputuskan secara mufakat. Dengan sistem tersebut, peran pemimpin tunggal tidak diberlakukan, melainkan sistem kerja sama tim yang lebih diutamakan.
Kinerja sebuah tim diyakini lebih tangguh dibandingkan kinerja individu, mengingat seorang individu senantiasa berisiko melakukan kesalahan. Selalu diusahakan agar setiap keputusan yang diambil murni merupakan hasil dari kerja sama tim (teamwork), sehingga praktik pimpinan sepihak (one-man show) tidak diterapkan.
Pernyataan ini turut dikuatkan oleh salah seorang sumber. Ditambahkan pula oleh sumber tersebut bahwa Bapak Harjo Sutanto tetap dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
Model kepemimpinan ini terbukti efektif dalam mendukung ekspansi besar-besaran perusahaan ke berbagai lini bisnis, mulai dari perbankan melalui Bank Ekonomi dan melalui PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (Bank MAS) dan di sektor konstruksi melalui PT Wiranusa Grahatama, yang bergerak dibidang pengembangan properti. Alhasil, Wings pun tumbuh menjadi imperium bisnis yang mampu mendominasi pasar domestik tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai perusahaan keluarga.
Strategi Kesuksesan Transformasi Bisnis Keluarga Wings Group
1. Penerapan Manajemen Kolektif (Konsolidasi Internal)
Alih-alih menunjuk satu pemimpin tunggal (one-man show), generasi kedua sukses menjaga keutuhan perusahaan dengan menerapkan sistem manajemen kerja sama tim (teamwork). Seluruh keluarga besar Katuari dan Sutanto dilebur ke dalam satu jajaran direksi (board of directors). Kepakaran setiap anggota keluarga ditempatkan pada sektor yang berbeda.
· Teddy J. Katuari dipercaya mengawasi sektor finansial sebagai Presiden Komisaris Bank Ekonomi, sedangkan posisi Direktur Utama dipegang oleh Hendrik Tanojo (keponakan Harjo Sutanto).
· Di sektor hulu (bahan baku), Fifi Sutanto dipercaya mengendalikan Ecogreen (salah satu produsen oleokimia terbesar di dunia).
· Di sektor pemasaran lini produk Wings, Ivan Tanojo ditempatkan sebagai Direktur Pemasaran.
Sebagai perusahaan tertutup (privately held company), Wings Group tidak mempublikasikan seluruh struktur direksi secara terbuka untuk setiap anak perusahaannya di ranah publik. Namun, keputusan strategis perusahaan dijalankan secara kolaboratif oleh keturunan dari kedua pendiri tersebut. Sistem ini meminimalisasi konflik keluarga dan memastikan setiap keputusan bisnis dipikirkan secara matang dari berbagai sudut pandang.
2. Ekspansi dan Diversifikasi Lintas Sektor
Jika generasi pertama fokus pada produk consumer goods (sabun dan detergen), generasi kedua berani melakukan ekspansi vertikal (hulu ke hilir) dan horizontal (lintas industri):
· Sektor Finansial: Membesarkan Bank Ekonomi Raharja yang kemudian diakuisisi oleh HSBC, pada tahun 2008, dan saat ini melalui PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (Bank MAS).
· Sektor Kimia & Oleokimia: Mengamankan rantai pasok bahan baku sabun dan detergen dengan mengakuisisi dan mendirikan pabrik kimia (seperti Ecogreen Oleochemicals dan PT Unggul Indah Cahaya).
· Sektor Properti: Merambah sektor konstruksi dan pengembangan properti melalui PT Wiranusa Grahatama
· Terjun ke industri makanan dan minuman (F&B) seperti peluncuran Mie Sedaap yang sukses mematahkan dominasi Indomie, floridina, potabee, ice cream, dsb
· Terjun ke industry minimarket yaitu FamilyMart di Indonesia dioperasikan oleh PT Fajar Mitra Indah, yang merupakan pemegang lisensi tunggal dan anak usaha dari Wings Group
3. Kongsi Bisnis Strategis (Joint Venture)
Grup Wings sangat tertutup perihal urusan internal, namun sangat terbuka dalam berkolaborasi dengan taipan lain. Mereka menyadari bahwa risiko ekspansi berskala raksasa dapat ditekan dengan cara berkongsi (membentuk konsorsium):
· Kongsi dengan Salim Group: Bersama Grup Salim, Wings membentuk PT Wiranusa Grahatama (bergerak di properti) dan berkolaborasi di sektor oleokimia.
· Kongsi dengan Djarum dan Lautan Luas: Pada tahun 2000-an, Wings membentuk konsorsium bersama Grup Djarum dan Grup Lautan Luas untuk mengambil alih raksasa oleokimia Salim Group (Salim Oleochemicals) dari BPPN pasca-Krisis Moneter 1997. Kolaborasi Wings dan Djarum juga merambah pengembangan properti mewah di Jakarta, seperti Pulogadung Trade Center (PTC) dan Grand Indonesia (konsorsium).
· Kemitraan strategis (Joint Venture) dengan perusahaan asing, seperti Lion Corporation dari Jepang (membentuk PT Lion Wings), Ezaki Glico Co. dari Jepang (membentuk PT Glico Wings), dan Calbee Inc. dari Jepang (membentuk PT Calbee Wings Food)
4. Memperkuat “Gurita” Melalui Aliansi Pernikahan
Salah satu langkah paling strategis yang diambil oleh pimpinan generasi kedua (khususnya Eddy William Katuari, putra Ferdinand Katuari) adalah menikahkan putra-putrinya dengan penerus konglomerasi besar lain. Aliansi pernikahan ini menciptakan jaringan di peta bisnis Indonesia yang sulit ditandingi:
· Grup Djarum: Putri pertama William Katuari, Grace L. Katuari, menikah dengan Martin B. Hartono, putra dari R. Budi Hartono (pemilik Grup Djarum dan BCA).
· Grup Lautan Luas: Putri kedua William Katuari, Jane Katuari, menikah dengan Tjandra Gozali, yang merupakan generasi penerus dari Grup Lautan Luas (perusahaan raksasa penyedia bahan kimia dasar).
· Grup Charoen Pokphand: Putri ketiga William Katuari menikah dengan Benjamin Jiaravanon, putra dari Sumet Jiaravanon, yang merupakan keluarga pemilik Charoen Pokphand Indonesia Group (raksasa pakan ternak dan agribisnis).
Sumber:
Wings Indonesia. (2026, Mei 03). About Us. Blog Wings Group. https://wingscorp.com/
Samara, G. (2021). Family businesses in the Arab Middle East: What do we know and where should we go?. Journal of Family Business Strategy, 12, 100359. DOI: 10.1016/j.jfbs.2020.100359
Simanjuntak, Agustinus. (2010). Prinsip-Prinsip Manajemen Bisnis Keluarga (Family Business) Dikaitkan Dengan Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas (PT). JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, 1(2),113-120
Yuningsih, Novi. (2026). Indonesia: Food Processing Ingredients Annual Report. Jakarta:Foreign Agricultural Service, United State Department of Agriculture. https://www.fas.usda.gov/data/gain/2026/04/indonesia-food-processing-ingredients-annual
