Strategi Family Business Generasi Kedua, Sukses Teruskan Usaha Orangtua

Apa Strategi Family Business untuk Sukses?
Umumnya, family business yang dibangun orang tua selama bertahun-tahun sudah punya pelanggan, reputasi, pengalaman, dan sistem yang berjalan. Namun, ketika masuk generasi kedua, tantangannya ikut berubah.
Pasar sudah berbeda, konsumen berubah, dan teknologi semakin berkembang. Tak bisa dipungkiri, para kompetitor juga kian agresif.
Lalu, haruskah generasi kedua mempertahankan cara lama atau melakukan perubahan besar? Mari kita ulas strategi generasi kedua di artikel berikut!
Mengapa Generasi Kedua Punya Tantangan Berbeda?
Melihat hasil PwC Indonesia Family Business Survey 2025, sekitar 43% generasi penerus di Indonesia masih menghadapi penolakan atau ketidaksetujuan dari generasi sebelumnya saat ingin membawa perubahan dalam bisnis.
Sementara itu, hanya 25% bisnis keluarga di Indonesia yang merasa cukup siap menghadapi perubahan dengan cepat.
Jadi, tantangan generasi kedua adalah perlu mencari cara untuk membawa bisnis berkembang tanpa menghilangkan hal-hal baik yang sudah dibangun orang tua.
Lalu, apa saja yang bisa dilakukan? Berikut strategi yang bisa dipertimbangkan.
Strategi Pertumbuhan Family Business Generasi Kedua
Generasi kedua sebenarnya punya peluang besar untuk membawa family business tumbuh lebih jauh. Mereka bisa memanfaatkan strategi dan teknologi yang mungkin belum digunakan generasi sebelumnya.
1. Satukan Pengalaman Generasi Pertama dengan Ide Generasi Kedua
Generasi pertama punya pengalaman panjang dalam membangun bisnis. Sementara itu, generasi kedua lebih dekat dengan teknologi dan biasanya berani mencoba cara baru.
Menurut Chaakra Consulting, perbedaan ini tidak seharusnya menjadi sumber konflik, tetapi bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan tepat.
Bangun kesepahaman antara generasi lama dan generasi baru untuk saling berbagi peran yang jelas dan melihat bagian mana yang dapat ditingkatkan ke depannya.
Baca juga: Kapan Perusahaan Keluarga Perlu Konsultan Bisnis Keluarga? Ini 6 Tandanya
2. Jadikan Teknologi sebagai Alat untuk Bertumbuh
Generasi kedua biasanya lebih terbiasa dengan teknologi. Sangat disaranakn untuk mencari tahu masalah bisnis terlebih dahulu.
Apakah laporan masih berantakan? Apakah stok sulit dipantau? Apakah data pelanggan tidak tersimpan dengan baik? Apakah pemilik kesulitan mengetahui performa setiap cabang?
Dari masalah tersebut, barulah perusahaan menentukan teknologi yang benar-benar dibutuhkan.
3. Cari Tahu Pertumbuhan Berikutnya
Generasi kedua perlu memikirkan, “Kalau bisnis ini ingin tumbuh dua atau tiga kali lebih besar, apa yang harus berubah?”
Jawabannya bisa berbeda untuk setiap perusahaan. Bisa berupa produk baru, pasar baru, cabang baru, pemasaran digital, kerja sama dengan pihak lain, atau justru memperbaiki proses bisnis yang selama ini kurang efisien.
Di sinilah Growth Analysis dari konsultan seperti Chaakra Consulting menjadi penting.
Sebelum menentukan langkah, perusahaan perlu memahami kondisi bisnis terlebih dahulu dan peluang apa yang sebenarnya belum dimanfaatkan.
4. Pisahkan Urusan Keluarga dan Urusan Perusahaan
Dalam family business, keluarga dan bisnis sering bercampur. Ayah bisa menjadi pemilik sekaligus direktur atau anak bisa menjadi manajer perusahaan.
Kondisi ini bisa menimbulkan masalah karena hubungan keluarga dapat memengaruhi keputusan bisnis. Sebaliknya, masalah bisnis bisa terbawa ke rumah.
Karena itu, family business membutuhkan aturan bersama. Aturan ini perlu disepakati sejak awal. Tujuannya agar semua pihak memahami batasannya.
Misalnya, Apa syarat anggota keluarga menjadi karyawan? Bagaimana pembagian saham setelah pernikahan? Lalu, bagaimana jika terjadi perceraian? Dan lainnya.
Aturan tersebut perlu dibuat dengan jelas. Dengan begitu, keputusan bisnis terasa lebih adil.

Baca juga: Cara Mengelola Perusahaan Keluarga agar Bertahan Lintas Generasi
5. Siapkan Generasi Penerus

Jangan sampai proses pergantian generasi baru dimulai ketika generasi pertama sudah tidak mampu lagi memimpin. Generasi penerus perlu dipersiapkan jauh sebelumnya.
Chaakra Consulting memandang persiapan penerus sebagai proses. Bentuknya bisa melalui mentoring dari generasi pertama, pemberian tanggung jawab secara bertahap, rotasi di beberapa bagian perusahaan, hingga evaluasi kemampuan sebelum benar-benar memegang posisi penting.
McKinsey juga menekankan pentingnya pengalaman langsung, mentoring, dan persiapan yang terencana dalam proses pergantian pemimpin family business.
Family Business Membutuhkan Konsultan Perusahaan untuk Bertumbuh
Semakin besar bisnis keluarga, semakin banyak hal yang perlu dipikirkan secara bersamaan.
Chaakra Consulting hadir untuk membantu family business menghadapi berbagai tantangan.
Melalui Family Business Consulting, Growth Analysis, Redesign Organization, dan berbagai layanan konsultasi lainnya, Chaakra membantu perusahaan mempersiapkan suksesi bisnis keluarga.
Ingin family business naik ke level berikutnya? Yuk, ceritakan tantangan bisnis Anda kepada tim Chaakra Consulting. Hubungi kami via WhatsApp 6285745509992 dan temukan langkah yang paling tepat untuk bisnis Anda.
Sumber:
https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2025/indonesian/bagaimana-bisnis-keluarga-di-indonesia-mempersiapkan-warisan-mer.html
