Kisah Dato Sri Tahir dan Grace Tahir di Balik Mayapada Group

Dibalik Kesuksesan Dato Sri Tahir dan Grace Tahir
Kisah asal-usul yang sederhana ini bukan cuma jadi bumbu cerita, tapi tampaknya juga membentuk nilai-nilai yang diturunkan kepada anak-anaknya. Grace Tahir, anak kedua Dato Sri Tahir, pernah bercerita dalam berbagai wawancara bahwa dia tidak punya mobil sport mewah dan hanya mengendarai Alphard, serta tidak memakai jam tangan branded mahal, meski keluarganya masuk daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Menurut profil real-time Forbes, kekayaan Tahir dan keluarga tercatat US$8,4 miliar per 13 Juli 2026, menempatkan mereka di peringkat ke-304 dunia dalam daftar Forbes Billionaires 2026.
Selain nilai kesederhanaan, Tahir juga dikenal luas melalui kegiatan filantropinya melalui Tahir Foundation, termasuk kontribusi gabungan senilai ratusan juta dolar bersama Bill & Melinda Gates Foundation untuk isu sosial dan kesehatan di Indonesia. Ia juga pernah menyumbang satu juta dolar AS ke University of California, Berkeley pada 2011 untuk beasiswa mahasiswa internasional, dan sempat duduk di dewan pengawas universitas tersebut, menjadikannya orang Asia Tenggara pertama yang memegang posisi itu. Kombinasi antara latar belakang sederhana dan citra filantropis inilah yang lama menjadi wajah publik Mayapada, jauh sebelum generasi kedua mulai membangun citranya sendiri lewat jalur yang sama sekali berbeda.
Empat Anak, Empat Jalur
Dato Sri Tahir dan Rosy Riady punya 4 anak, yaitu Jane, Grace Tahir, Victoria, dan Jonathan Tahir. Ketiganya, kecuali Victoria yang jarang tampil di ranah bisnis maupun publik, mengambil peran berbeda di unit-unit bisnis keluarga. Jane, putri sulung, duduk di jajaran direksi Mayapada Hospital sekaligus pemegang saham perusahaan properti keluarga, setelah sebelumnya lama berkarier di posisi struktural Bank Mayapada. Jonathan, satu-satunya anak laki-laki dan kerap disebut media sebagai pewaris takhta bisnis keluarga, kini menjabat sebagai Deputy Chairman di Mayapada Group, sekaligus Chairman dan Group CEO khusus di unit Mayapada Healthcare Group (SRAJ). Sementara Grace, yang sempat berkarier di Siloam Hospital milik keluarga Lippo sebelum kembali membesarkan bisnis rumah sakit keluarganya sendiri, kini memimpin Mayapada Hospital sebagai direktur utama.
Tapi dari keempatnya, Grace-lah yang paling menonjol di ranah publik, dan bukan lewat jalur bisnis konvensional seperti rapat pemegang saham atau siaran pers korporat.
Grace Tahir : Generasi Kedua Mayapada
Sejak 2021, Grace Tahir mulai aktif membangun kanal YouTube pribadinya lewat program talkshow bernama Iso-Late Show, mengundang berbagai figur publik untuk ngobrol santai soal kehidupan dan pengalaman mereka. Program ini masih aktif tayang setidaknya sampai akhir 2025, kini bernaung di bawah label Everest Media. Ia juga sempat berkolaborasi dengan YouTuber gaming Jess No Limit lewat kanal bernama Grace No Limit, yang mengundang nama-nama seperti Jerome Polin dan Greysia Polii untuk berbagi cerita inspiratif lewat format podcast santai. Salah satu momen yang membuatnya viral adalah video parodi yang menyindir influencer investasi bodong Indra Kenz pada 2022, sebuah konten yang jauh dari citra formal seorang direktur perusahaan Tbk.
Puncaknya, Januari 2024, Grace meluncurkan Everest Media, wadah untuk menaungi berbagai program konten edukasi seputar kesehatan, sosial budaya, dan bisnis. Lewat Everest Media, nama Grace Tahir, dan secara tidak langsung nama Mayapada, mulai dikenal oleh audiens yang jauh lebih muda dan lebih luas dibanding audiens tradisional sebuah bank atau rumah sakit.
Di balik citra santai dan sukses yang biasa ia tunjukkan, Grace juga sempat membuka sisi yang lebih rentan. Dalam obrolan dengan kreator konten Emil Mario di kanal YouTube Slay and Say, tayang pertengahan Juli 2026, Grace mengaku masa awal 20-an-nya diwarnai kebingungan, karena ia diarahkan keluarga untuk langsung masuk ke bisnis keluarga tanpa sempat benar-benar bertanya apakah jalan itu memang pilihannya sendiri. Pengakuan semacam ini jarang muncul dari sosok yang selama ini dikenal publik lewat citra ceria dan percaya diri, dan menunjukkan bahwa tekanan suksesi generasi kedua di bisnis keluarga besar, termasuk di Mayapada, tidak selalu semulus yang terlihat dari luar. Ini juga jadi perpanjangan dari peran profesionalnya, yang tak cuma terbatas di Mayapada Hospital, tapi merentang ke posisi direktur di Philips Indonesia dan pendiri platform kesehatan digital dokter.id.
Ini yang menarik untuk dicermati dari sisi bisnis keluarga. Kalau generasi pertama macam Dato Sri Tahir membangun citra publik lewat filantropi dan narasi kerja keras yang khas media bisnis konvensional, generasi kedua lewat Grace Tahir justru membangun jangkauan lewat platform yang sama sekali berbeda, personal, informal, dan jauh dari kesan korporat. Publik yang mungkin tidak pernah membaca laporan keuangan Bank Mayapada, bisa jadi justru kenal nama Mayapada lewat obrolan santai Grace di YouTube, atau lewat parodi viralnya di media sosial.
Ada “Modal Narasi” di Balik Modal Finansial Grace Tahir
Kalau ditarik satu benang merah dari cerita Dato Sri Tahir sampai Grace Tahir, ada satu hal yang menarik untuk bisnis keluarga mana pun, bukan cuma Mayapada: selain modal finansial yang selama ini rutin disuntikkan Dato Sri Tahir ke bisnisnya, ada juga modal lain yang sering luput dihitung, yaitu modal narasi. Cerita asal-usul yang merakyat, citra filantropis, dan personal branding generasi penerus yang genuine ini berfungsi seperti aset tak berwujud yang membangun kepercayaan publik jauh sebelum orang sempat bertanya soal rasio kredit bermasalah, notasi khusus bursa, atau siapa yang duduk di jajaran direksi.
Bedanya dengan modal finansial, modal narasi ini punya dua sifat yang perlu dikelola hati-hati:
- Tidak otomatis diwariskan. Generasi pertama biasanya membangun narasinya lewat kerja keras dan filantropi, sesuatu yang perlu waktu puluhan tahun untuk terbentuk. Generasi kedua, seperti yang dilakukan Grace, harus membangun ulang jenis kepercayaan yang sama, tapi lewat bahasa dan platform yang sama sekali berbeda dari generasi sebelumnya. Tidak semua penerus bisnis keluarga memiliki insting atau rasa nyaman untuk melakukan ini secara publik.
- Riskan jadi pisau bermata dua. Begitu wajah personal seorang anggota keluarga menjadi representasi tak resmi dari bisnis, sorotan terhadap kehidupan pribadinya, baik yang positif seperti konten viral, maupun yang berisiko seperti pemeriksaan hukum, ikut menyeret nama besar perusahaan ke ruang publik yang sama. Batas antara “ini urusan pribadi Grace Tahir” dan “ini menyangkut reputasi Mayapada” jadi makin tipis.
Bagi bisnis keluarga lain, pelajarannya bukan berarti setiap penerus harus memiliki kanal YouTube. Tapi kasus Mayapada menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap bisnis keluarga besar tidak melulu dibangun lewat laporan tahunan atau siaran pers, melainkan juga lewat cerita manusia yang konsisten diceritakan ulang lintas generasi, dengan cara yang relevan bagi zamannya masing-masing.
Sumber:
- Forbes.com, profil real-time, Tahir & family, (2026)
- Forbes.com, Bain Capital To Invest $157 Million In Indonesian Billionaire Tahir-Backed Mayapada Hospital, (2024).
- Kompas.com, Cerita Bos Mayapada Group Dato Sri Tahir, (2024).
- VIVA.co.id, Padahal Anak Konglomerat tapi Grace Tahir Akui Sempat Galau dan Frustrasi di Usia 20-an, (2026).
- IDXChannel, Profil Grace Tahir, Anak Konglomerat yang Punya Acara Talkshow di YouTube, (2024).

1 Comment
Hi there,
I recently came across http://chaakra-consulting.com and wanted to get in touch. Your website has good potential, and with the right SEO strategy, it could reach more customers through Google.
Our SEO services are customized to improve rankings, increase organic traffic, and help businesses generate consistent leads.
If this is something you’d be interested in, let me know, and I’ll send our SEO strategies along with our package details.
Best regards,
Arpit