Relevansi Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital dalam Perspektif Psikologi

Perspektif Psikologi dalam memandang kesehatan mental
Hidup di zaman serba cepat dan digital membuat orang harus peka dengan kesehatan mental diri. Sekarang, semua lini terhubung, teknologi digital dan perangkat gadget mengalami perkembangan sangat pesat.
Pada kenyataannya, transformasi digital saat ini ini hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan, terutama dalam bidang interaksi sosial maupun komunikasi. Namun, generasi yang paling adaptif terhadap perkembangan atau transformasi digital adalah generasi z.
Gen Z merupakan generasi dengan sebutan “digital native” rentang kelahiran generasi ini dari tahun 1997-2012, setelah generasi milenial.

Di tengah kemudahan akses informasi yang ditawarkan, muncul konsekuensi psikologis yang signifikan terkait kesehatan mental, terutama pada Gen Z.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeskripsikan kesehatan mental sebagai “suatu kondisi hari dalam kehidupan, bekerja kesejahteraan secara di mana seseorang dapat menyadari kemampuannya, menghadapi stres sehari-produktif, dan berkontribusi dalam komunitas.
Sedangkan Survei yang dilakukan McKinsey Health Institute (2022), menunjukkan terdapat 35% responden Gen Z yang meluangkan lebih dari dua jam dalam satu waktu untuk mengakses media sosial.
Respon yang akan didapat ketika menggunakan sosial media secara berlebihan yakni dapat menyebabkan stres, kelelahan, dan rasa takut ketinggalan (FOMO) (Kinanti, 2022).
Penggunaan teknologi digital yang tidak terkontrol mengakibatkan beberapa gejala atau kondisi psikologi yang bersifat negatif, seperti kecanduan digital, gangguan tidur, stres, kecemasan, bahkan depresi menjadi gejala yang semakin sering ditemui. Kesehatan mental mental akan terganggu karena hal ini.
Kecemasan sosial menjadi salah satu contoh kondisi psikologis yang muncul akibat mengikuti arus digitalisasi yang tidak terkontrol, Kecemasan sosial adalah kondisi seseorang ketika merasa takut dan khawatir yang berlebihan saat berinteraksi dengan orang lain.
Faktor akan menjadi kompleks ketika dikaitkan dengan realitas digital, di mana individu secara konstan terpapar pada representasi diri orang lain yang sering kali bersifat manipulatif dan tidak realistis (Jefferies and Ungar 2020).
Seberapa Luas Kecanduan Digitalisasi Menggerogoti Self-esteem Gen Z ?
Berkembangnya zaman yang semakin maju, Digitalisasi bukan hanya menjadi pelengkap untuk kebutuhan manusia, namun sudah termasuk menjadi kebutuhan wajib. Beberapa orang akan merasa kebingungan ketika tidak memegang handphone/ponsel.
Penggunaan digitalisasi yang berlebihan akan memperburuk kondisi psikologi (kecemasan sosial). Di mana fenomena “social comparison” membuat pengguna digitalisasi/gen z akan menjadikan perbandingan kehidupan mereka saat ini dengan kehidupan orang lain yang terlihat “wah”. Jika mereka lihat (Tedjawidjaja & Christanti, 2022) mengakibatkan merasa tidak percaya diri (insecure) dan khawatir saat harus bertemu dengan teman/orang baru.
Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Chen & Wong (2023), dalam periode pengamatan selama dua tahun terjadi peningkatan sebesar 45% pada indikator kecemasan sosial dikalangan generasi Z sebagai pengguna aktif sosial media.
Platform atau sosial media yang banyak digunakan generasi z untuk “social comparison” antara lain instagram, facebook, twitter, tiktok dan lain sebagainya.
Fenomena ini diperkuat oleh Data Asosiasi Psikologi Sosial Indonesia (2023), menunjukkan sebesar 65% gen z alami kecemasan terkait jumlah “likes” ataupun “komentar” yang diterima di media sosial.
Temuan ini menunjukkan pengaruh terhadap interaksi online dalam membentuk self-esteem individu.
Selain itu penggunaan media sosial yang berlebihan berpotensi mengganggu kualitas tidur. Di sisi lain, Digitalisasi juga berpotensi baik jika digunakan dengan bijak, misalnya digunakan untuk mencari dukungan sosial atau berbagi pengalaman yang kontruktif.
Tantangan Fenomena Kesehatan Mental di Era Digital
Selain kecemasan sosial dan stress, cyberbullying atau perudungan di era digital juga menjadi tantangan bagi semua generasi terutama generasi z, bentuk cyberbullying dapat berupa hinaan, ancaman atau komentar jahat secara diam-diam sehingga korban sering merasa tidak aman ketika sedang sedirian.
Menurut Pew Research Center (2018) 59% remaja AS pernah mengalami perundungan atau pelecehan daring, dan persentase yang sama mengatakan hal itu merupakan masalah besar bagi orang-orang seusianya.
Di Indonesia, menemukan bahwa 45% dari mereka pernah mengalami perundungan online (cyberbullying). Peristiwa ini cenderung dialami oleh anak laki-laki (49%) daripada anak perempuan (41%) (Unicef, 2020).
Disamping itu, dampak dari perundungan online (cyberbullying) yakni menyebabkan depresi, merasa cemas, tidak nyaman, mengurung diri dan tidak mau bergaul bersama orang lain, menghindari dari lingkungan sosial dan adanya keinginan untuk bunuh diri.
Pelaku cyberbullying cenderung kurang memiliki rasa bersalah atas apa yang telah dilakukan kepada korban, karena mayoritas pelaku menutupi identitasnya (anonim) tanpa harus bertanggung jawab.
Pelaku memiliki beranian untuk mengungkapkan dengan Bahasa yang kasar serta melakukan pelecehan terhadap orang lain, dikarenakan pelaku dapat bersembunyi dibalik identitas yang tertutupi (anonim).
Namun disisi korban, akan merasakan kebingungan, tertekan, dan khawatir berlebih akibat dari perundungan online (cyberbullying). Dampak psikologis lainnya yang harus diterima korban yakni kecemasan, depresi, hingga keinginan untuk mengisolasi diri.
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Arus Digitalisasi
Digitalisasi tentu memberikan dampak positif dan negatif. Positifnya, mempermudah komunikasi antar satu individu dengan individu lainnya, membangun kreativitas yang beragam, dan mudah mendapatkan informasi yang dicari didalam digitalisasi.
Negatifnya, individu akan merasa kebingungan ketika jauh dari gadget, merasa cemas ketika memposting sesuatu di sosial media namun feedback yang didapatkan tidak sesuai keinginan, dan harus mengikuti trend terbaru agar tidak merasa tertinggal dengan yang lain.
Digitalisasi sebagai bentuk nyata dari perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika terjadi ketidakseimbangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan psikososial akan banyak memicu hal yang bersifat negatif.
Tak jarang pengikut arus digitalisasi memiliki sebutkan “hyperconnected” yang dimana terdapat tekanan untuk terus terhubung dan mengikuti arus informasi secara real-time, akhirnya menciptakan kelelahan digital dan kejenuhan mental.
Menjaga kesehatan mental di tengah arus digitalisasi dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan digital dijam-jam produktif, menghindari penggunaan digital setidaknya satu jam sebelum tidur.
Selain itu, individu bisa menerapkan pola hidup seimbang dengan mengembangkan aktivitas fisik, hobi kreatif, interaksi sosial langsung dan waktu istirahat yang cukup dari rutinitas harian.
Selain itu, menerapkan edukasi literasi menjadi bagian yang bisa diterapkan supaya pengguna digital dapat membedakan antara informasi valid dan hoaks, serta memahami cara berinteraksi yang sehat di ruang digital.
Kesehatan mental di era digital menunjukkan peran dominan membentuk pola hidup di berbagai generasi. Gen z cenderung digital-oriented ditandai dengan penggunaan aktif teknologi untuk konsumsi, hiburan maupun komunikasi. Pengaruh digitalisasi terhadap kesehatan mental bersifat dualistik.
Di samping itu, digitalisasi mempermudah akses informasi dan hiburan yang dapat membantu mengurangi stres. Namun penggunaan yang berlebihan juga tuntutan eksistensi daring, dan cyberbullying turut memicu kecemasan, gangguan tidur, hingga gejala depresi ringan.
Meskipun dalam batas tertentu juga dapat meningkatkan akses terhadap dukungan sosial dan informasi yang bermanfaat.
Secara keseluruhan, pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai fondasi penting bagi kehidupan yang produktif, dengan strategi yang tepat dalam mengelola arus digitalisasi dapat meminimalisir dampak negatif didalamnya.
Laila Rahmadani Adi Putri, S.Psi1 , Herlina Eka Subandriyo Putri, M.Psi., Psikolog2
