Ada Pertanyaan ?
+62 857-4550-9992

Penerapan ESG pada Bisnis Masa Kini: Definisi dan Perkembangan

chaakra By  April 14, 2026 0 112
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis

Penerapan ESG pada Bisnis sebagai Standar Baru Dunia Usaha

Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis

Halo Sobat Chaakra, tahukah kamu kalau dunia bisnis saat ini telah berubah drastis. Di masa sekarang, dunia bisnis dipandang negatif karena maraknya isu perubahan iklim, masalah polusi udara, krisis manajemen limbah, hingga masifnya penggunaan plastik. Di samping krisis lingkungan, ada lagi masalah sosial seperti kesenjangan upah pekerja, serta buruknya tata kelola seperti skandal korupsi korporasi juga semakin meresahkan publik. Oleh karena itu, perusahaan kini dituntut untuk menyadari dampak operasi mereka terhadap semua pihak yang terlibat, mulai dari karyawan, konsumen, masyarakat sekitar, hingga lingkungan hidup. Di sinilah konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) hadir. Oleh karena itu, mari kita belajar bagaimana penerapan ESG pada bisnis !

Memahami Konsep Penerapan ESG pada Bisnis : Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola

Penerapan ESG pada dunia bisnis dan investasi bukanlah sekadar program amal atau Corporate Social Responsibility (CSR) biasa. ESG adalah bagian inti dari strategi perusahaan untuk bertahan dalam jangka panjang. Mari kita bedah ketiga bagian dari ESG:

  1. Aspek Lingkungan (Environmental)

  Aspek ini menilai seberapa ramah operasi perusahaan terhadap bumi. Saat ini, perusahaan tidak hanya dituntut mematuhi aturan lingkungan, tetapi juga harus proaktif melakukan perbaikan. Penilaian utamanya meliputi upaya perusahaan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca atau jejak karbon, baik dari pabrik mereka sendiri maupun dari pihak pemasok barang mereka.

  1. Aspek Sosial (Social)

Aspek sosial menilai bagaimana perusahaan memperlakukan manusia, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Di dalam perusahaan, hal ini berarti memberikan lingkungan kerja yang aman, menggaji karyawan dengan layak, serta tidak membeda-bedakan karyawan berdasarkan gender, suku, agama, atau kondisi fisik (disabilitas).

  1. Aspek Tata Kelola (Governance)

  Aspek tata kelola adalah fondasi dari semuanya. Aspek ini menilai bagaimana perusahaan dipimpin dan dikelola agar janji-janji lingkungan dan sosialnya benar-benar ditepati, bukan sekadar janji manis. Tata kelola melihat apakah pemimpin perusahaan bekerja dengan jujur, transparan, dan terhindar dari praktik korupsi atau suap. 

Perkembangan Aturan ESG di Indonesia

  Di Indonesia, penerapan ESG pada bisnis berkembang dengan sangat pesat. Dulu, perusahaan boleh memilih apakah mau membuat laporan peduli lingkungan atau tidak. Namun sekarang, hal tersebut perlahan menjadi kewajiban yang diatur ketat oleh hukum. Langkah ini diambil karena pemerintah Indonesia telah berjanji kepada dunia untuk menurunkan emisi karbon dan mencapai target emisi nol bersih (Net Zero Emissions) selambat-lambatnya pada tahun 2060. Perubahan besar dimulai ketika OJK mengeluarkan peraturan POJK No. 51 Tahun 2017 yang mewajibkan bank dan perusahaan publik untuk mulai menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan. Di pasar saham, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga membuat aturan baru pada Januari 2025. BEI mewajibkan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa untuk mengisi formulir khusus yakni Formulir E020 mengenai capaian ESG mereka. 

Mengapa Penerapan ESG Pada Bisnis Begitu Penting Saat Ini?

  1. ESG Membuat Perusahaan Makin Untung

  Perusahaan yang mencatatkan efisiensi yang berujung pada peningkatan laba bersih (profitabilitas). Fakta ini didukung oleh penelitian terbaru dari Utomo (2024) yang membuktikan bahwa pengungkapan ESG berdampak langsung pada peningkatan Return on Asset (ROA) yang mengukur seberapa efisien perusahaan mengubah asetnya menjadi laba bersih, dimana hal ini terlihat paling dominan pada sektor energi serta manufaktur.

  1. Pembuktian pada Performa Pasar dan Indeks Global

  Riset dari MSCI yang disusun oleh Ishihara (2024) telah mengkaji sebanyak sebanyak 13.560 perusahaan yang tersebar diseluruh dunia. Dalam riset tersebut menunjukan hasil bahwa dengan peringkat ESG tinggi secara konsisten mampu meminimalkan risiko bisnis dan mencetak profitabilitas yang lebih tangguh, yang pada akhirnya menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.

  1. Akses ke Pendanaan Berkelanjutan 

  Di seluruh dunia, lembaga pemberi pinjaman raksasa sudah tidak mau lagi meminjamkan uangnya ke perusahaan yang merusak bumi. Mereka beramai-ramai memindahkan uangnya kepada perusahaan yang punya rencana jelas untuk menjaga lingkungan hidup. Jadi, bagi perusahaan zaman sekarang, mematuhi ESG adalah tiket masuk utama untuk mendapatkan suntikan modal besar yang berkelanjutan

Tantangan Utama dalam Menerapkan ESG

Meskipun teorinya terdengar bagus, mempraktikkan ESG di dunia nyata sangatlah sulit. Perusahaan sering kali menghadapi beberapa hambatan besar berikut ini:

  1. Ancaman Greenwashing 

  Tantangan terbesar saat ini adalah fenomena greenwashing. Ini adalah istilah ketika sebuah perusahaan berbohong atau melebih-lebihkan klaim bahwa produk mereka “ramah lingkungan” di iklan atau media sosial, padahal sebenarnya mereka tidak melakukan perbaikan apa pun. 

  1. Perusahaan Kurang Memahami Dalam Penyusunan Laporan

  Tantangan kedua adalah banyaknya aspek yang harus dimuat dalam laporan ESG. Ada banyak sekali aspek yang perlu dimasukan, sehingga para pemilik bisnis sering kali pusing saat harus menyajikan laporan ESG mereka, sehingga memerlukan jasa dari pihak lain untuk membuatnya. 

Mekanisme Penyusunan Laporan ESG 

  Laporan ESG atau yang secara resmi di Indonesia disebut sebagai Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) bukan sekadar brosur promosi yang berisi foto-foto kegiatan tanam pohon. Laporan ini adalah dokumen tebal yang terstruktur seperti laporan keuangan. Berdasarkan pedoman SEOJK No. 16/2021, laporan ini berisi evaluasi resmi dari dewan komisaris dan direksi mengenai performa sosial dan lingkungan Perusahaan. Bagi perusahaan yang baru pertama kali menyusun laporan ESG, prosesnya sangat panjang dan butuh kerja sama semua divisi. Mengutip dari panduan lembaga Social Investment Indonesia (2025), persiapan penyusunan ESG idealnya melewati empat tahap krusial:

  1. Fase Penyelarasan Nilai, fase ini memastikan jajaran direksi, komisaris, dan pemegang saham sepakat bahwa perusahaan tidak lagi sekadar mengejar untung sesaat, melainkan berkomitmen pada kelestarian.
  2. Fase Diagnosis Isu Material. Tidak semua masalah dunia harus diurus oleh satu perusahaan. Pada tahap ini, perusahaan menyeleksi isu mana yang paling mendesak bagi bisnis mereka. 
  3. Fase Pengumpulan Data, fase ini adalah tahap paling berat. Seluruh divisi (SDM, Legal, Keuangan, Pabrik) harus berkolaborasi mengumpulkan data metrik.
  4. Fase Pelaporan & Akuntabilitas. Perusahaan menyusun data tersebut ke dalam sebuah Laporan Keberlanjutan yang mematuhi standar OJK dan membawanya ke auditor independen agar kebenaran datanya bisa disahkan (audit).

Sebagai contoh isi pada laporan ESG, kita dapat menengok Sustainability Report Bank Mandiri yang memuat tabel indikator kuantitatif yang berisi :

  1. Tabel Aspek Lingkungan. Berisi angka total konsumsi energi perusahaan, total volume air yang digunakan, hingga jumlah pasti emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh perusahaan.
Tabel aspek lingkungan sebagai acuan penerapan ESG pada bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis
Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis

Sumber : Bank Mandiri, 2026.

  1. Tabel Aspek Sosial. Menampilkan data rasio jumlah karyawan, total jam pelatihan yang diberikan per karyawan, hingga persentase pasti jumlah karyawan wanita yang menduduki kursi manajerial.

Sumber : Bank Mandiri, 2026.

  1. Tabel Aspek Ekonomi & Tata Kelola. Merinci nominal dana yang telah disalurkan untuk program pemberdayaan masyarakat, serta total investasi yang dikucurkan khusus untuk mendanai inovasi ramah lingkungan.

Sumber : Bank Mandiri, 2026.

Kesimpulan

  Berdasarkan penjelasan di atas, sangat jelas bahwa Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan sekadar tren gaya-gayaan atau program amal sementara. ESG adalah cara baru yang modern untuk mengelola bisnis. Melalui ESG, risiko-risiko yang dulunya sering diremehkan seperti polusi udara, kesejahteraan buruh, dan tata Kelola perusahaan kini diukur dengan angka pasti dan dijadikan syarat utama dalam menilai sebuah perusahaan.

  Pada akhirnya, perusahaan yang dengan sungguh-sungguh menerapkan ESG tidak hanya akan disukai oleh masyarakat. Mereka juga akan dihargai dengan nilai saham yang lebih tinggi, lebih kebal saat terjadi krisis ekonomi, dan yang terpenting, mereka akan dengan mudah mendapatkan suntikan modal besar di masa depan. Oleh karena itu, bagi setiap perusahaan, menerapkan ESG bukan lagi soal ingin terlihat baik, melainkan strategi bertahan hidup yang wajib dilakukan jika tidak ingin tergilas oleh persaingan di era baru ini.

Daftar Referensi

Arifin, S. (2024). Analisis Dampak Pengungkapan Sustainability Reporting terhadap Kepercayaan Investor. Jurnal Media Akademik, 2 (12).

Bank Mandiri. (2026). Sustainability Report, Shaping a Sustainable Ecosystem, Synergy for Sustainability Leadership. 

Bursa Efek Indonesia. (2026). Indonesia Stock Exchange (IDX) Launched ESG Metrics Reporting.

Edwards, R., & Lefkovitz, D. (2025). In a Mixed Year for Sustainable Investing – Most Climate and Net Zero-Aligned Indexes Outperformed in 2024. Morningstar Indexes.

Ishihara, Y. (2024). Insights on MSCI ESG Ratings and Business Performance. MSCI ESG Research.

Otoritas Jasa Keuangan. (2017). Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan.

Rizqi, A., & Munari. (2023). Peran Corporate Social Responsibility sebagai Dimensi ESG dalam Meningkatkan Profitabilitas. Owner: Riset dan Jurnal Akuntansi.

Social Investment Indonesia. (2025). Mengintegrasikan ESG ke Dalam Bisnis Perusahaan: Jalan Strategis Menuju Penciptaan Nilai Berkelanjutan di Indonesia.

Utomo, et al. (2024). Pengaruh Pengungkapan ESG terhadap Kinerja Keuangan. E-Journal Wiraraja.

Anjas Firmansyah – Asisten Konsultan Kebijakan Publik

Ilustrasi penerapan ESG dalam bisnis

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *