Ada Pertanyaan ?
+62 857-4550-9992

Realitas Kesehatan Mental pada Ibu Pekerja di Era Digital

chaakra By  October 31, 2025 0 187
Gambaran Ibu Pekerja dan Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Kesehatan Mental pada Ibu Bekerja

Bekerja adalah sebuah pilihan. Terlebih lagi menjadi pilihan yang berat untuk seorang Ibu. Pilihan tersebut terkadang cukup mengganggu kesehatan mental Ibu. Bagaimana realita ini bisa terjadi? Simak dalam artikel berikut ini.

Pepatah lama mengatakan bahwa “Cinta Anak Sepanjang Galah Tetapi Cinta Ibu Sepanjang Masa”. Dari ungkapan ini kita sudah memahami bahkan merasakan cinta kasih seorang ibu pada setiap anaknya mulai dari dalam kandungan bayi, balita, remaja, dewasa untuk mendampingi anak dalam menjalani tugas-tugas perkembangannya (task developmental) secara optimal. Psikolog perkembangan Havighurst (Dalam Hurlock, 1978) menyatakan bahwa seorang anak yang mampu menjalani tugas-tugas perkembangannya dengan baik akan mampu membentuk kepribadian yang adequate, matang dan sehat baik secara fisik maupun mental.

Menjadi seorang ibu merupakan sebuah peran sentral dalam sebuah keluarga, khususnya anak-anaknya. Seorang ibu memiliki peran baik secara biologis seperti; kelahiran & pasca kelahiran, penyedia nutrisi dan kesehatan maupun psikologis seperti; menciptakan kedekatan (attachment), kehangatan, rasa aman (safety) dan sense of personal bagi anak-anaknya (Joanne MacDonald, 2010).

Oleh karena itu, untuk menjalani perannya dengan optimal maka terdapat 3 dimensi dari kesehatan (wellness) yang harus dimiliki oleh ibu (Dalam, mothers Mental Health Toolkits, 2010) , antara lain: Body Health (terpenuhinya nutrisi, kecukupan waktu istirahat dan olahraga/gerak aktif); Mental Health (stress management dan informasi/pengetahuan eksternal yang mendukungnya melakukan tugas); Emotional Health (kesempatan untuk melakukan pengembangan diri/aktualisasi diri).

Sayangnya, saat ini seiring dengan perkembangan era digital tidak secara serta memberikan pengaruh positif melalui bentuk dukungan emosional namun juga lebih menyudutkan peran seorang ibu yang dilihat dari keberadaannya secara fisik dan kuantitas waktu dengan anaknya, yakni paradox ibu bekerja (working moms) maupun ibu yang tinggal dirumah (stay at home moms). Hal ini terlihat dari “perang unggahan” (upload) maupun komentar yang lebih pada membanding-bandingkan tentang siapa yang lebih baik/lebih mulia/lebih superior.

Media komunikasi elektronik memberikan peran penting pada perkembangan informasi sekaligus stressor bagi seorang ibu, khususnya diperkotaan (Hall and Irvine, 2009). Tidak sedikit ibu merasa terpojok, merasa bersalah (guilty feeling) yang berdampak pada kesehatan mentalnya dan secara tidak langsung akan memberikan efek samping pada pola pengasuhan pada anaknya.

Secara Nasional berdasar pada Laporan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi depresi di Indonesia pada kelompok perempuan memiliki prevalensi tertinggi yakni sebesar 2.8% yang terhitung 2 kali lipat dari laki-laki yang berada dalam angka 1.1% (SKI, 2023). Sebenarnya hal ini sudah dikatakan relatif menurun apabila dibandingkan pada tahun 2018 yang mencatat bahwa angka prevalensi depresi perempuan sebesar 7.4% lebih tinggi dari laki-laki yang masih 4.7%.

Meskipun demikian, tetap saja dari sepanjang tahun 2018 hingga tahun 2023 menunjukkan bahwa perempuan tetap memiliki prevalensi lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal ini menjadi sebuah perhatian tersendiri untuk pemerintah nantinya guna menangani permasalahan terkait kesehatan mental, khususnya perempuan.

Merujuk dari hasil Harvard Study oleh McGinn (2018) terdapat beberapa faktor-faktor yang dinilai mempengaruhi kesehatan mental ibu, antara lain; keterbatasan informasi dan pengetahuan atas pentingnya kesehatan mental ibu dalam pengasuhan anak, stigma masyarakat atas peran ibu, low self-worth pada ibu, fearness ibu terkait pengasuhan anak yang dibantu caregiver, serta keterbatasan finansial dan akses transportasi.

Apabila dikaitan dengan stigma masyarakat di era digital ini yang membandingkan peran antara ibu pekerja dibandingkan dengan ibu dirumah yang dianggap lebih memberikan dampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang diasuh ini sudah berhasil dipatahkan oleh riset Harvard Study (McGinn, 2018) melalui survei longitudinal selama 10 tahun pada lebih dari 100.000 anak dari 29 negara, termasuk Indonesia.

Dari riset ini menunjukkan bahwa anak-anak dari pengasuhan ibu pekerja (working mom) sama bahagianya dengan pengasuhan ibu dirumah (stay at home mom). Terlebih dalam survei ini dikaitkan dengan kepuasan hidup (life satisfaction) dan kebahagiaan (happiness) yang dirasakan oleh anak-anak yang dibesarkan pada fase memasuki usia remaja adalah sama.

Hasil ini diharapkan mampu menghapus imej inferioritas dan rasa bersalah yang dialami oleh peran setiap ibu baik untuk ibu yang bekerja maupun ibu yang tinggal dirumah.

Adapun hasil penelitian pendukung lainnya melalui data Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2015 juga menunjukkan bahwa tidak dipungkiri memang partisipasi kondisi ibu bekerja yang memiliki anak-anak pada rentang usia 0-3 tahun ini memang berpotensi memberikan pengaruh negatif pada perkembangan kognitif.

Namun, pengurangan skor ini sangat kecil dibanding pengaruh variabel lain seperti kompensasi pemberian ASI, partisipasi sekolah anak dan peningkatan konsumsi gizi yang tercukupi.

Berdasarkan hasil ini nantinya mampu membuka mata bahwa setiap ibu memiliki peran yang sama besarnya bagi tumbuh kembang anaknya dan perlunya dukungan satu sama lain “woman support woman”. Hal ini juga diperkuat oleh artikel Gervais (dalam Harvard Business Review, 2024) menunjukkan adanya istilah STOP Being FOPO (Fear of Other People Opinion) berupa pengelolaan diri yang dimiliki seseorang untuk mengatasi ketakutan atas opini/label yang diberikan oleh orang lain atas dirinya baik secara langsung maupun dari hal-hal yang dilihat, dibaca dari lingkungan eksternal termasuk media digital ini memberikan pengaruh negatif pada self-worth sekaligus well-being yang dimiliki.

Media digital pada dasarnya diibaratkan sebagai pedang bermata dua, disatu sisi bisa memberikan beragam informasi dan wawasan namun disisi lain juga berpotensi sebagai stressor yang berdampak pada perkembangan psikologis sekaligus emosional, khususnya seorang ibu terlepas perannya masing-masing.

Pada ibu pekerja pun perlu adanya pemahaman bahwa dengan berkurangnya waktu (secara kuantitas) dalam membersamai anak ini perlu dibarengi dengan pemahaman bahwa dengan meninggalkan anak untuk bekerja bukan berarti menjadikan anak menderita bahkan dengan perlu dibarengi dengan hasil riset McGinn (2018) menunjukkan pada anak remaja, khususnya anak perempuan yang dibesarkan pada ibu pekerja ternyata lebih memiliki kecenderungan sebagai high-achiever sekaligus lebih bahagia pada saat nantinya memasuki usia produktif bekerja.

Lalu, bagaimana dengan anak laki-laki apakah juga sama?. Untuk anak remaja laki-laki pun juga memberikan dampak pada pemikiran lebih egaliter bahkan akan cenderung memilih istri yang berkarir nantinya pada saat di usia dewasa sebagaimana yang dikemukakan oleh McGin (2018).

Berdasarkan realitas yang ada saat ini, ditambahkan dengan banyaknya riset yang mengulas mengenai kesehatan mental bagi para ibu, khususnya ibu pekerja ini membuat kita seharusnya mensudahi mencari pembenaran maupun kelemahan dari setiap peran yang dijalani oleh seorang ibu.

Disamping itu, perlu juga adanya dikembangkan self-worth dari setiap peran itu sama berharganya. Pada dasarnya, sebagai ibu juga perlu adanya relaksasi/suasana penyegaran yang sebenarnya sebagian besar juga bisa diperoleh dari media sosial sebagai hiburan terlebih ada sisi positif dan negatifnya.

Oleh karena itu, perlu adanya “benteng pertahanan psikologis” untuk memilih dan memilah bentuk konten seperti apa yang dibaca maupun dilewati saja. Hal ini berdasar pada asumsi bahwa manusia tidak bisa mengontrol variabel lingkungan, tapi yang bisa dilakukan adalah mengendalikan perilaku kita sendiri dalam merespon setiap stimulus eksternal/dari lingkungan.

Di era digital ini juga perlu dukungan baik dari keluarga, peer group maupun lingkungan eksternal dengan mulai digiatkan gerakan-gerakan untuk mendukung kesehatan mental ibu sebagai bentuk pertolongan pertama mengatasi depresi sekaligus menjaga kesehatan mental ibu melalui “Mothers Mental Health Toolkit”, yang terdiri dari; Mother Wellness & Self Care (perlunya penanaman self-worth, pengembangan diri, kecukupan waktu istirahat); The Mothering Role (menjaga kualitas kedekatan anak, komunikasi efektif, manajemen waktu), Community Action (mengikuti kegiatan positif, membangun relasi dan stop labeling pada ibu) guna menjaga kesehatan mental ibu yang berdampak pada generasi bangsa kedepan. Kesimpulannya, semua ibu itu berharga dan layak dilindungi kesehatan mentalnya yang berawal dari diri sendiri!!!.

Herlina Eka Subandriyo Putri, M.Psi.,Psikolog
Psikolog Chaakra Consulting

Make a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *